Minggu, 20 Juni 2010

Mengapa

Wahai saudara sadarlah kita
Lahir ke dunia tiada dosa
Tak sehelaipun kain dimiliki
Martabat tahta tak di punyai


Allah ciptakan kita semua
Hanyalah dari air yang hina
Jadilah jadi bayi yang suci
Hitam putihnya takdir Illahi


Mengapa harus saling benci
Mengapa harus saling dengki
Mengapa harus sombong diri
Mengapa harus susah hati
Mengapa harus sakit hati
Mengapa harus kecil hati

Mengapa oh mengapa


Bukankah milik sudah terbagi
Bukankah rizki janji Illahi
Bukankah ajal sudah pasti
Bukankah jodoh sudah terpilih

Mengapa bimbang mengapa ragu
Kepada Tuhanmu yang satu
Mengapa oh mengapa



By: HAWARI

Obat Hati dari Abu Darda Ra.

Suatu hari datanglah seseorang kepada sahabat Nabi, Abu Darda dan ia berkata, "Aku ingin menjadi orang shalih, tapi hatiku sakit. Wahai imam, berilah aku penyembuh dari Al Qur'an, obat buatan nabi Muhammad Saw". Abu Darda menanggapinya,"Wahai anakku, inilah obat untukmu :lakukanlah shalat jenazah, jenguklah orang-orang sakit, dan berziarahlah ke makam. Ini akan menyembuhkan sakitmu." Maka orang itupun menuruti nasihat Abu Darda'.

Bila penyakit hati manusia dapat di sembuhkan dg melakukan shalat jenazah, para imamnya pasti wali-wali Allah. Bila berziarah ke makam dapat membawa manusia kepada Tuhan al-Haqq, para penggali makamnya pastilah malaikat-malaikat Allah. Jika membezuk orang sakit dapat memanusiakan manusia, para perawatnya niscaya manusia-manusia sempurna (insan kamil). Perhatikan baik-baik nasihat yang di berikan sahabat Nabi kepada orang itu. Dia melakukan shalat jenazah persis mengikuti imamnya. Ziarahnya ke makam sama dengan kunjungan para penggali kubur. Dia menengok orang sakit layaknya seorang perawat terampil.

Akan tetapi, dia tidak membawa hasil(perubahan) : hatinya malah genjadi gelap dan keras membatu. Maka, diapun datang kembali dan mengeluhkan perihalnya pada Abu Darda' ,"Wahai Imam, aku telah mengikuti semua nasihatmu, tetapi hatiku tetap keras membatu. Aku tak beroleh apa pun dari nasihatmu." Lantas Abu Darda' menjawab, "Duhai anakku,engkau memang telah shalat jenazah seperti gerakan yang dilakukan para Imam, tetapi engkau belum menjalankannya dengan benar. Saat shalat, apakah engkau merenung: 'Akulah yang berbaring di keranda itu, dan dirimu sendiri, 'Akulah yang berpisah dari harta dan jabatan ; istriku menjadi janda, anak-anakku menjadi yatim ; mereka menguburkanku di dalam bumi yang gelap, aku tak bisa berbuat apa-apa; mereka mengkafaniku tanpa tali; disini aku sendiri dengan dosa-dosaku; sekarang dua malaikat datang menanyaiku: apa yang harus aku lakukan sendirian di rumah yang gelap ini?" Orang tersebut berkata, "Tidak, aku tidak merenungkan semua itu." Lalu Abu Darda' menambahkan, "Engkau tak mendapatkan apa- apa dari shalat jenazah yang engkau dirikan. Sebaliknya, saat shalat itu malah memburamkan hatimu. Kini, pergilah dan shalatlah lagi seraya merenungkan hal-hal yang telah kusampaikan tadi,"




Taken from "Nafas Cinta ILAHI"
Written by 'Lidia Yurita'
Pustaka Fahimma