Dua orang mullah berdakwah keliling kampung dan bermalam di rumah seorang yang ternyata adalah seorang mursyid. Ketika seorang mullah keluar rumah untuk berwudhu, sang mursyid berkata " Alangkah tingginya ilmu temanmu. Apakah akhlaknya mulia? Senangkah engkau bersamanya?". Mullah itu menjawab, "Dia? Dia seperti keledai, sangat dungu!". Tak berapa lama kemudian, mullah yang berwudhu itu masuk, maka diamlah temannya. Kini giliran mullah kedua berwudhu dan sang mursyid mengajukan pertanyaan yang sama. "Demicinta kepada Allah," kata mullah itu, "Dia seperti lembu, sangat bodoh, suka bertengkar dan keras kepala. Mana ada orang yang suka padanya. Aku kebetulan bertemu dengannya dan menjadi sahabatnya."
Dua mullah ini sangat serasi. Lantaran salah satunya keledai dan yang lainnya lembu. Mereka tak pernah bertikai. Lantas apa yang terjadi pada keduanya?... Menjelang maghrib, saat berbuka puasa, tiga piring saji yang tertutup telah terhidang di depan mullah masing-masing. Adzan maghrib berkumandang, mereka segera berbuka. Ketika mereka membuka tudung sajinya, apa yang mereka lihat? Didepan mereka berdua tersaji sepiring gandum dan sepiring jerami, sedangkan di depan sang mursyid terdapat telur goreng dan mentega.
"Silahkan makan!" ucap sang mursyid. "Ayolah, kenapa kalian belum menyantapnya?". Dua orang mullah itu saling berpandangan, tapi sang mursyid terus mendesak mereka, lalu menambahkan. "Aku tak salah. Sebelumnya aku bertanyakepada temanmu tentang dirimu dan dia menyebutmu keledai, maka kuhidangkan gandum untukmu." Lalu, menoleh pada mullah lainnya, dia berkata, "Aku juga bertanya padatemanmu tentang dirimu, dia menyebutmu lembu, maka kuhidangkan jerami untukmu. Begitulah aku mengetahui identitas kalian dari teman kalian sendiri. Gandum dan jerami adalah makanan untuk binatang. Aku hidangkan itu untuk menghormatimu. Adapun manusia, aku makan telur."
Manusia menjadi mulia setinggi dia memuliakan temannya . Janganlah membuat gelaran-gelaran yang buruk kepada orang lain, apalagi kepada temannya sendiri. Barang siapa dihina oleh orang lain, dia harus menerimanya dengan sabar dan lapang dada. Dia tidak boleh membalasnya dengan hinaan karena hal itu justru akan merendahkannya serendah orang yang menghinanya. Apabila ada keledai mendopakmu, apakah kamu akan balas menendangnya? Jika benar demikian apakah tiada bedanya engkau dengan keledai, sebab keledai itu mendopakmu lantaran ia keledai, dan engkau melakukan hal yang sama dengannya. Engkau akan terpuruk kedalam kehinaan yang sama. Andai ada anjing menggonggong atau menggigitmu, apakah engkau akan balas menggonggong atau menggigitnya?
Taken from
Nafas Cinta Illahi
Written by: Lidia Yurita
Pustaka Fahimma
Dua mullah ini sangat serasi. Lantaran salah satunya keledai dan yang lainnya lembu. Mereka tak pernah bertikai. Lantas apa yang terjadi pada keduanya?... Menjelang maghrib, saat berbuka puasa, tiga piring saji yang tertutup telah terhidang di depan mullah masing-masing. Adzan maghrib berkumandang, mereka segera berbuka. Ketika mereka membuka tudung sajinya, apa yang mereka lihat? Didepan mereka berdua tersaji sepiring gandum dan sepiring jerami, sedangkan di depan sang mursyid terdapat telur goreng dan mentega.
"Silahkan makan!" ucap sang mursyid. "Ayolah, kenapa kalian belum menyantapnya?". Dua orang mullah itu saling berpandangan, tapi sang mursyid terus mendesak mereka, lalu menambahkan. "Aku tak salah. Sebelumnya aku bertanyakepada temanmu tentang dirimu dan dia menyebutmu keledai, maka kuhidangkan gandum untukmu." Lalu, menoleh pada mullah lainnya, dia berkata, "Aku juga bertanya padatemanmu tentang dirimu, dia menyebutmu lembu, maka kuhidangkan jerami untukmu. Begitulah aku mengetahui identitas kalian dari teman kalian sendiri. Gandum dan jerami adalah makanan untuk binatang. Aku hidangkan itu untuk menghormatimu. Adapun manusia, aku makan telur."
Manusia menjadi mulia setinggi dia memuliakan temannya . Janganlah membuat gelaran-gelaran yang buruk kepada orang lain, apalagi kepada temannya sendiri. Barang siapa dihina oleh orang lain, dia harus menerimanya dengan sabar dan lapang dada. Dia tidak boleh membalasnya dengan hinaan karena hal itu justru akan merendahkannya serendah orang yang menghinanya. Apabila ada keledai mendopakmu, apakah kamu akan balas menendangnya? Jika benar demikian apakah tiada bedanya engkau dengan keledai, sebab keledai itu mendopakmu lantaran ia keledai, dan engkau melakukan hal yang sama dengannya. Engkau akan terpuruk kedalam kehinaan yang sama. Andai ada anjing menggonggong atau menggigitmu, apakah engkau akan balas menggonggong atau menggigitnya?
Taken from
Nafas Cinta Illahi
Written by: Lidia Yurita
Pustaka Fahimma